Kamis, 02 Januari 2014

Sekilas Pekalongan & Sragen

Pekalongan terbagi dalam 2 wilayah pemerintahan yaitu Kota Pekalongan yang lebih dekat dengan Batang dan Kabupaten Pekalongan yang lebih dekat dengan Pemalang. Kota Pekalongan sendiri merupakan kota yang dikenal dengan kerajinan batiknya. Ada yang dibuat di rumah-rumah, ada pula yang dibuat di pabrik. Penduduknya maju dari sisi perdagangan. Selain batik, Kota Pekalongan juga memiliki hasil laut yang bagus. Wilayah bagian utara berbatasan dengan Lau Jawa.
Makanan khas Pekalongan adalah nasi megono. “Megono” merupakan masakan yang dibuat dari nangka muda. Rasanya khas. Untuk mendapatkanya mudah saja. Ada warung-warung kecil yang menjual nasi megono bungkus. Paling harganya Rp 1000,- Jika ingin mencoba banyak makanan, datang saja ke alun-alun Kota Pekalongan setiap hari Minggu. Pagi-pagi sambil jalan-jalan akan disuguhi berbagai makanan yang ramai antrinya, lapak-lapak pakaian dan batik serta berbagai pedagang dadagan (pasar tumpah). Harganya murah-murah. Oya, perlu diketahui juga, tahun 2013 lalu Kota Pekalongan menjadi tuan rumah dalam rangka hari batik nasional.

Sragen merupakan wilayah pemerintahan kabupaten yang dikelilingi daerah Ngawi, Karanganyar, Solo, dan Purwodadi. Jika manusia purba benar adanya, Sragen termasuk wilayah bumi yang sangat tua. Di Plupuh (salah satu kecamatan yang dekat Solo) ada museum pra sejarah Sangiran. Ada gading gajah dengan panjang sekitar 7 meter. Selain fosil yang menunjukkan binatang raksasa juga ditemukan fosil manusia purba. Jangan lewatkan untuk mampir ke museum Sangiran sembari menuju Surakarta jika ke Sragen.
Kabupaten Sragen sempat menjadi pelopor pelayanan satu atap. Pelayanan satu atap merupakan terobosan yang mengubah kesan birokrasi berbelit-belit. Pengurusan ijin berada dalam satu komplek kantor sehingga tidak perlu bolak-balik. Oya, hal unik yang lain adalah Sragen tidak ada RW. Jika dilihat di KTP, kolom RW hanya berisi tanda strip (-). Mungkin itu salah satu usaha untuk mengubah birokasi. Jika ada warga yang ingin mengurus surat ke kelurahan, cukup pengantarnya dari RT (tanpa RW karena tidak ada RW).
Secara kebudayaan Sragen masih kental dengan budaya Jawa. Bahasa umum di masyarakat menggunakan Bahasa Jawa halus (bukan ngoko). Acara-acara formal dalam masyarakat seperti pernikahan dan pesta umumnya menggunakan Bahasa Jawa halus. Hal tersebut dimungkinkan karena Sragen memiliki kedekatan dengan Keraton Surakarta yang masih melestarikan Bahasa Jawa halus. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Pariman & Rizka Hayati © 2008. Design By: SkinCorner