Pekalongan
terbagi dalam 2 wilayah pemerintahan yaitu Kota Pekalongan yang lebih dekat
dengan Batang dan Kabupaten Pekalongan yang lebih dekat dengan Pemalang. Kota
Pekalongan sendiri merupakan kota yang dikenal dengan kerajinan batiknya. Ada yang
dibuat di rumah-rumah, ada pula yang dibuat di pabrik. Penduduknya maju dari
sisi perdagangan. Selain batik, Kota Pekalongan juga memiliki hasil laut yang
bagus. Wilayah bagian utara berbatasan dengan Lau Jawa.
Makanan khas
Pekalongan adalah nasi megono. “Megono” merupakan masakan yang dibuat dari nangka
muda. Rasanya khas. Untuk mendapatkanya mudah saja. Ada warung-warung kecil
yang menjual nasi megono bungkus. Paling harganya Rp 1000,- Jika ingin mencoba
banyak makanan, datang saja ke alun-alun Kota Pekalongan setiap hari Minggu.
Pagi-pagi sambil jalan-jalan akan disuguhi berbagai makanan yang ramai
antrinya, lapak-lapak pakaian dan batik serta berbagai pedagang dadagan (pasar
tumpah). Harganya murah-murah. Oya, perlu diketahui juga, tahun 2013 lalu Kota
Pekalongan menjadi tuan rumah dalam rangka hari batik nasional.
Sragen
merupakan wilayah pemerintahan kabupaten yang dikelilingi daerah Ngawi,
Karanganyar, Solo, dan Purwodadi. Jika manusia purba benar adanya, Sragen
termasuk wilayah bumi yang sangat tua. Di Plupuh (salah satu kecamatan yang
dekat Solo) ada museum pra sejarah Sangiran. Ada gading gajah dengan panjang
sekitar 7 meter. Selain fosil yang menunjukkan binatang raksasa juga ditemukan fosil
manusia purba. Jangan lewatkan untuk mampir ke museum Sangiran sembari menuju
Surakarta jika ke Sragen.
Kabupaten
Sragen sempat menjadi pelopor pelayanan satu atap. Pelayanan satu atap
merupakan terobosan yang mengubah kesan birokrasi berbelit-belit. Pengurusan
ijin berada dalam satu komplek kantor sehingga tidak perlu bolak-balik. Oya,
hal unik yang lain adalah Sragen tidak ada RW. Jika dilihat di KTP, kolom RW
hanya berisi tanda strip (-). Mungkin itu salah satu usaha untuk mengubah
birokasi. Jika ada warga yang ingin mengurus surat ke kelurahan, cukup
pengantarnya dari RT (tanpa RW karena tidak ada RW).
Secara
kebudayaan Sragen masih kental dengan budaya Jawa. Bahasa umum di masyarakat
menggunakan Bahasa Jawa halus (bukan ngoko).
Acara-acara formal dalam masyarakat seperti pernikahan dan pesta umumnya
menggunakan Bahasa Jawa halus. Hal tersebut dimungkinkan karena Sragen memiliki
kedekatan dengan Keraton Surakarta yang masih melestarikan Bahasa Jawa halus.

0 komentar:
Posting Komentar